Senin, 19 April 2010

Tanda Baiknya Islam Seseorang

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:
“Diantara (tanda) baiknya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.”
(HR. At-Tirmidziy no.2318, Malik, Ahmad dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu dan dishahihkan oleh Asy-Syaikh Al-Albaniy dalam Al-Misykaah 4839)
Hadits ini dikenal di kalangan kaum muslimin bahkan kebanyakan mereka telah menghafalnya baik secara lafazh maupun maknanya karena memang lafazhnya pendek sehingga mudah dihafal, akan tetapi sedikit dari mereka yang melaksanakan kandungan hadits tersebut kecuali orang yang Allah mudahkan.
Hadits ini diriwayatkan oleh Qurrah bin ‘Abdurrahman dari Az-Zuhri dari Abu Salamah dari Abu Hurairah radhiyallahu‘anhu dan beliau berkata tentang hadits ini: “Ini adalah kalimat yang padat isinya, luas dan agung maknanya yang tersusun dalam lafazh yang singkat.”
Hadits ini adalah pokok dalam masalah adab dan arahan yang lurus kepada orang Islam. Abu Dawud berkata: “Pokok/intinya sunnah pada semua babnya terdapat dalam empat hadits.”, lalu beliau menyebutkan di antaranya yaitu hadits ini. (Syarh Al-Arba’iin Hadiitsan An-Nawawiyyah hal.43). Berkata Ibnu Rajab: “Hadits ini adalah pokok yang agung dari pokok-pokok adab” (Jaami’ul ‘Uluum wal Hikam hal.105).
Berkata Muhammad bin Abi Zaid, Imamnya Madzhab Malikiyyah pada zamannya: “Kumpulan adab kebaikan dan pengikatnya tercabang dari empat hadits, kemudian beliau menyebutkan yang diantaranya adalah hadits ini: “Di antara bagusnya keislaman seseorang adalah meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat.”
Dan diriwayatkan dari Al-Hasan, beliau berkata: “Di antara tanda berpalingnya Allah Ta’ala dari seorang hamba adalah Allah menjadikan kesibukannya dalam hal-hal yang tidak bermanfaat baginya.”
Diantara Tanda Kesempurnaan Islamnya Seorang Hamba
Sesungguhnya di antara tanda kesempurnaan islamnya seorang hamba dan keistiqamahannya adalah meninggalkan apa-apa yang bukan tujuannya dari ucapan-ucapan dan perbuatan-perbuatan serta dia mencukupkan terhadap apa-apa yang bermanfaat baginya dari hal-hal tersebut. Makna: “apa-apa yang bermanfaat” adalah apa-apa yang berkaitan dengan ‘inaayah-nya (perhatian dan kepentingannya) serta merupakan maksud/tujuannya dan yang dia cari, sedangkan ‘inaayah adalah kuatnya perhatian terhadap sesuatu, dikatakan ‘anaahu ya’niih artinya dia memperhatikannya dan mencarinya.
Kebanyakan yang diinginkan dengan kalimat “meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat” adalah menjaga lisan dari ucapan yang sia-sia. Maka kebanyakan manusia tidak menghitung ucapannya itu sebagai bagian dari amalannya sehingga dia serampangan dalam ucapannya dan tidak memeriksanya
Abu Dzarr radhiyallahu‘anhu berkata dalam sebuah haditsnya: “Siapa saja yang menghitung perkataannya termasuk dari amalannya niscaya akan sedikit perkataannya kecuali terhadap apa-apa yang bermanfaat baginya.”
Berkata Al-Imam An-Nawawiy: “Ketahuilah bahwasanya selayaknya bagi setiap mukallaf (orang yang terbebani kewajiban syari’at) agar menjaga lisannya dari setiap perkataan kecuali perkataan yang mengandung maslahat dan kapan saja antara berbicara dan meninggalkannya itu sama dalam kemaslahatannya maka yang disunnahkan adalah menahan diri darinya, karena sesungguhnya kadang-kadang perkataan yang mubah akan mengantarkan kepada yang haram dan makruh dan yang demikian itulah yang banyak terjadi.” (Riyaadhush Shaalihiin hal.532)
Dan di antara pengawasan dan sesuatu yang ma’ruf adalah bahwasanya perkataan yang baik yang akan ditimbang atau diam itu akan memberikan kemuliaan dan kewibawaan bagi kepribadian seorang muslim sedangkan banyaknya perkataan dan memperbanyaknya serta masuk pada perkara-perkara yang tidak bermanfaat hanya akan mengkoyak-koyak atau menodai kepribadian seorang muslim dan akan mengecilkan kedudukannya dan kemuliaannya dalam jiwa-jiwa orang lain.
Maka hadits ini menunjukkan bahwasanya meninggalkan apa-apa yang bukan perhatian dan kepentingan seseorang artinya meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat (pent) adalah di antara baiknya keislamannya dan di antara baiknya keislamannya adalah mencocoki kebaikan dan bimbingan (syari’at) dan akan dilipatgandakan kebaikan-kebaikannya dan akan dihapus kejelekan-kejelekannya. Dari Abu Hurairah berkata: “Apabila salah seorang di antara kalian membaguskan keislamannya, maka setiap kebaikan yang ia lakukan akan ditulis sepuluh kali lipat yang semisalnya sampai tujuh ratus kali lipat sedangkan setiap kejelekan akan ditulis dengan yang semisalnya sampai ia bertemu Allah ‘azza wa jalla.” (Mukhtashar Muslim hal.23)
Patokan dalam Meninggalkan Apa-apa yang Tidak Bermanfaat
Mesti harus adanya patokan terhadap ketentuan ini secara syari’at, bukan mengikuti hawa nafsu dan bisikan-bisikan jiwa, karena hal itulah Rasulullah menjadikannya (meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat) termasuk dari baiknya keislaman seseorang, karena ada sebagian manusia salah dalam memahami hadits ini, lalu meninggalkan kebanyakan dari perkara-perkara yang wajib atau yang sunnah karena menyangka bahwasanya semuanya ini termasuk dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat, sebagaimana sebagian manusia ini meninggalkan nasehat kepada orang lain, dan hal ini tidak ragu lagi menyelisihi banyak nash-nash (dalil-dalil) yang menganjurkan untuk menasehati kaum muslimin. Dan sebaliknya, sebagian mereka masuk dalam banyak perkara-perkara (yang dilarang syari’at -pent.) karena menyangka bahwasanya hal ini termasuk dari hal-hal yang bermanfaat. (Lihat Qawaa’id wa Fawaa`id minal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.122-124)
Beberapa Faidah Hadits Ini:
1. Sesunguhnya keislaman seseorang itu berbeda-beda, ada yang baik dan ada yang tidak baik, berdasarkan sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam: “Di antara ciri baiknya keislaman seseorang...”
2. Selayaknya bagi seorang muslim untuk meninggalkan apa-apa yang tidak bermanfaat, baik dalam urusan agamanya maupun dunianya, karena sesungguhnya hal itu akan lebih menjaga waktunya dan lebih menyelamatkan agamanya serta lebih mudah untuk meringkasnya (sehingga tidak terjatuh pada perbuatan yang tidak bermanfaat -pent.). Seandainya dia masuk (mencampuri) urusan-urusan manusia yang tidak ada kepentingannya dan tidak bermanfaat baginya niscaya benar-benar dia akan lelah. Akan tetapi jika dia berpaling darinya dan tidak sibuk kecuali dengan perkara yang bermanfaat, niscaya hal ini akan menjadi ketenteraman dan ketenangan baginya.
3. Janganlah seorang muslim menyia-nyiakan perkara yang bermanfaat bagi dirinya yakni perkara yang penting baginya dari perkara agamanya maupun dunianya, bahkan seharusnya dia menekuninya dan sibuk dengannya serta melakukan cara yang lebih dekat untuk mendapatkan apa yang dimaksud (dari hal-hal yang bermanfaat -pent.). (Lihat Ta’liiqaat ‘alal Arba’iin An-Nawawiyyah hal.32-33)
4. Dalam hadits ini terdapat anjuran untuk menggunakan waktu dengan hal-hal yang akan memberikan manfaat kepada seorang hamba baik di dunia maupun di akhirat.
5. Anjuran atas hamba untuk memilih dan menyaring perkara-perkaranya dan menyibukkan diri dengan perkara-perkara yang tinggi nilainya.
6. Anjuran agar melatih jiwa dan mendidiknya, dan yang demikian itu dengan cara menjauhkann diri dari apa-apa yang dapat mengotorinya dari kekurangan-kekurangan dan kerendahan-kerendahan
Peringatan dan Nasehat
Maka kami menasehati diri-diri kami secara khusus dan kaum muslimin secara umum agar benar-benar memperhatikan dan memahami keterangan di atas baik dari Al-Qur`an, As-Sunnah ataupun ucapan para ‘ulama serta mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.
Berusahalah semaksimal mungkin dengan meminta pertolongan kepada Allah agar kita bisa menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat baik di dunia maupun di akhirat. Janganlah kita menyibukkan dengan hal-hal yang tidak bermanfaat seperti ngobrol kesana kemari tanpa ada manfaat yang jelas, suka mencampuri urusan orang lain kecuali kalau dia meminta kita untuk membantunya, membicarakan aib orang lain, ngrumpi dan lain sebagainya dari perkara-perkara yang tidak bermanfaat dan dilarang oleh agama.
Tidakkah kita lebih baik menyibukkan diri dengan hal-hal yang bermanfaat seperti: membaca Al-Qur`an dan menghafalkannya, mempelajari hadits Nabi dan menghafalkannya semampu kita, membicarakan permasalahan ilmu agama yang akan menambah ilmu kita, membicarakan dakwah dan menyebarkannya di tengah ummat, mengajak orang lain untuk menghadiri majelis ilmu yang disampaikan oleh ahlus sunnah, mendengarkan ceramah-ceramahnya lewat kaset, mendengarkan murottal dan sebagainya dari amalan-amalan yang dituntunkan oleh syari’at.
Kalaulah kita mau sibuk dengan hal-hal yang bermanfaat tadi niscaya kita tidak akan tersibukkan dengan hal-hal yang sia-sia dan tidak bermanfaat. Sebagaimana perkataan sebagian salaf, ”Waktu adalah pedang. Jika engkau tidak menyibukkan diri dengan kebenaran. Pasti ia akan menyibukkanmu dengan kebatilan.”
Kita meminta kepada Allah Ta’ala agar memberikan taufiq-Nya kepada kita semua sehingga kita mampu melaksanakan apa-apa yang Allah cintai dan ridhai. Dan ucapan orang-orang beriman adalah: “Kami mendengar dan kami taat.” Wallaahu Ta’aalaa A’lam.
Buletin Al Wala’ wal Bara’ Edisi ke-45 Tahun ke-2 (dengan sedikit perubahan)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar